Allah Mengujiku Dengan 4 Nyawa

Allah Mengujiku Dengan 4 Nyawa
Oleh : Iis Farida

Namanya Khairiyah, ibu dari 3 anak ini Allah uji dengan cobaan yang luar biasa. Setelah semuanya meninggal, satu persatu, anak-anak yang tercinta yang masih balita pun pergi untuk selamanya.
Hidup ini memang ujian. Seperti apapun warna hidup yang Allah berikan kepada seorang hamba tak luput dari namanya ujian. Bersabarkah sang hamba atau menjadi kufur dan durhaka. Dari sudut pandang teori, semua orang yang beriman mengakui itu. Tapi, bagaimana jika ujian itu berwujud dalam kehidupan nyata. Mampukah?
Hal itulah pernah dialami oleh Ibu Khairiyah. Semua itu diawali pada tahun 1992.
Waktu itu, Allah mempertemukan jodoh Khairiyah dengan seorang pemuda yang belum ia kenal. Perjodohan itu berlangsung melalui sang kakak yang prihatin dengan adiknya yang belum juga menikah. Padahal usianya sudah nyaris 30 tahun. Bagi khairiyah pernikahan merupakan pintu ibadah yang didalamnya begitu banyak amal ibadah yang bisa ia raih. Karena itulah, ia tidak mau mengawali pintu itu dengan sesuatu yang tak di ridhai oleh Allah.
Ia, sengaja memilih sang kakak, karena dengan cara belum mengenal calon itu bisa lebih menjaga keihklasan untuk memasuki jenjang pernikahan. Dan berlangsunglah pernikahan yang tidak di hadiri oleh ibu dan ayah khairiyah. Karena keduanya memang sudah lama di panggil oleh Allah ketika Khairiyah masih sangat balita. Hari demi hari berumah tangga pun dilalui Khairiyah dengan penuh bahagia wqalau sang suami hanya seorang sopir di sebuah perusahaan pariwisata, ia, merasa cukup dengan yang ada.
Keberkahan dirumah tangga Kahiriyah pun mulai tampak. Tanpa ada jeda lagi Khairiyah langsung hamil, ia dan suami pun begitu bagia “Ngak lama lagi, kita punya momongan, Bang! Ujarnya kepada sang suami. Mulailah hari-hari mengidam yang merepotkan pasangan baru ini. tapi buat Khairiyah semua berlalu begitu menyenangkan dan yang di tunggu pun datang. Bayi pertama Khairiyah lahir. Ada kebahagiaan. Tapi juga ada kekhawatiran. Mungkin, inilah kekhawatiran pertama untuk pasangan ini. Dari sinilah uian erat itu mulai bergulir. Dokter mengatakan bahwa bayi pertamma bu Khairiyah prematur, sang bayi lahir di usia kandungan 6 bulan. Ia bernama Dina walau dokter mengizinkan Dian pulang bersama ibunya. Tapi harus terus berobat jalan. Dan tentu saja urusan biaya menjadi tak terelalkan untuk seorang suami bu Khairiyah yang hanya sopir. Setidaknya dua kali sepekan bu Khairiyah hdan suami mondar mandir ke dokter untuk periksa Dina. Kadang karena kesibukan suami, bu Khairiyah mengatur Dina sendirian.
Beberapa bulan kemudian, Allah memberikan kabar gembira kepada bu Khairiyah. Ia hamil untuk anak yang ke 2. Bagi bu Khairiyah, harapan akan hiburan dari anak-anak mulai berbunga. Biarlah anak pertama yang menjadi ujian, anak ke 2 akan menjadi pelipurlara, begitulah kira-kira angan-angan bu Khairiyah dan suami. Dengan izin Allah, anak bu Khairiyah lahir dengan selamat bayi itu pun mempunyai nama Nissa lahir di saat sang kakak baru berusia satu tahun. Dan lahir, saat sang kakak masih tetap tergeletak layaknya pasien berpenyakit dlam. Tidak bisa bicara dan merespon. Bahkan merangkak dan duduk pun belum mampu suatu ketikalaziman untuk usia bagi 1 tahun.
Beberapa minggu berlalu setelah letih dan repotnya bu Khairiyah menghadapi kelahiran. Allah memberikaan tambahan ujian yang ke 2 buat bu Khaririyah dan suami. Anak ke 2nya Nisaa, mengalami penyakit aneh yang belum terdeteksi ilmu kedokteran sering panas dan kejang kemudian normal seperti tak terjadi apa-apa begitu seterusnya. Hingga di usia 6 bulan pun Nissa belum menunjukan perkembangan normal layaknya seorang bayi. Ia mirip kakaknya yang tetap saja tergejolak di pembaringan. Jadilah bu Khairiyah dan suami kembali mondar mandir ke dokter dengan 2 anak sekaligus. Di usia 6 bulan Nisaa, Allah memberikan kabar gembira untuk yang ke 3 kalinya. Buat bu Khairiyah dan suami. Ternyata bu Khairiyah hamil. Belum lagi anak ke 2 nya genap satu tahun. Anak ke 3 bu Khairiyah yang ke 3 lahir. Saat itu, harapan kedatangan sang pelipur lara kembali muncul dan anak ke 3 nya itu bayi laki-laki namanya Fahri.
Mulailah hari-hari sangat merepotkan dilakoni bu Khairiyah. Bayangkan, ke 2 anaknya belum terlihat tanda-tanda kesembuhan bayi ke 3 pun ikut menyita perhatian sang ibu. Tapi, kerepotan itu masih terus di tutupi oleh harapan bu khairiyah dengan hadirnya penghibur Fahri yang mulai berusia 1 tahun.
Sayangnya Allah berkehendak lain, apa yang diangankan bu Khairiyah sama sekali tidak cocok dengan apa yang Allah inginkan. Fahri menghidap penyakit yang mirip kakaknya. Ia seperti menderita kelumpuhan jadilah 3 bayi yang tidak berdaya menutup seluruh celah waku dan biaya bu Khairiyah dan suami.
Hampir semua barang berharga ia jual untuk berobat, mulai dokter, tukang urut, herbal, dll. Tetap saja perubahan belum nampak di anak-anak bu Khairiyah.
Justru perubahan muncul pada suami tercinta, karena sering kerja lembur dan kurang istirahat suami bu Khairiyah tiba-tiba sakit berat perutnya buncit dan hampir seluruh kulitnya berwarna kuning. Hanya sekitar 10 jam dalam perawat rumah sakit, sang suami meninggal dunia. September 2001 itu, menjadi titik baru perjalanan bu khairiyah dengan cobaan baru yang lebih kompleks dari sebelumnya.
Dan tinggallah sang ibu menghadapi rumitnya kehidupan bersama 3 balita yang sakit, tetapi tergolek dan belum memperlihatkan tanda-tanda kesembuhan 3 bulan setelah kematian suami. Allah menguji, yang dialami sebelumnya Fahri si bungsu, itu pergi selamanya. Kadang bu Khairiyah tercenung dengan apa yang ia lalui, ada sesuatu yang hampir tak pernah luput dari hidupnya. Air mata selama 9 tahun mengarungi rumah tangga.
Air maata seperti tak pernah berhenti menitik di kelopak mata ibu yang lulusan MA ini. Semakin banyak, sama kerabatnya berkunjung dengan maksud menyudai tetesan air mata itu kian baik air matanya mengalir dzikir dan istigfar terus terucap bersamaan dengan tetesan air mata.
Bu Khairiiyah berusaha untuk berdiri sendiri tanpa menanti belas kasihan tetangga dan sanak kerabat. Disela-sela kesibukan mengurus ke 2 anaknya yang masih tetap tergolek. Ia berdagang makanan ada nasi uduk, pisang goreng, bakwan dll.
Pada bulan juni 2002, Allah memanggil Nisa untuk meninggalkan dunia buat selamanya. Bu Khairiyah menangis, keluarga besar pun berduka mereka mengurus dan mengatar Nisa pergi untuk selamanya entah kenapa hampir tak satu pun sanak keluarganya bu Khairiyah yang ingin kembali ke rumah masing-masing. Mereka seperti ingin menemui Khairiyah untuk hal lain yang belum ketahui. Benar saja 2 hari setelah kematian Nisa. Dina pun menyusul. Padahal tenda dan bangku untuk sanak kerabat yang datang dari kematian Nisa belum lagi di rapihkan. Inilah puncak dari ujian Allah yang dialami bu Khairiyah. Sejak pernah pernikahnnya satu persatu orang-orang yang sebelumnya yang tak ada dalam kehidupannya pergi untuk selamanya orang-orang yang begitu ia cintai dan akhirnya menjadi orang-orang yang harus ia lupai. Kalau hanya sekedar air mata yang ia perhatikan nilai cintanya kepara orang-orang yang pernah bersamanya seperti tak punya nilai apa-apa.
Hanya ada satu sikap yang ingin ia perlihatkan agar semuanya bisa bernilai tinggi yaitu sabar “insya Allah” semua itu menjadi tabungan saya untu ktiket ke surga” ucap bu Khairiyah.

Tentang santrikalangsari

Pesantren kalangsari mendidik menjadi santri berprestasi dan berakhlakul karimah
Pos ini dipublikasikan di Kisah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s