Khalifah Abu Bakar Ash-shiddiq

SEJARAH KHALIFAH ABU BAKAR ASH-SHIDIQ

2.1. Riwayat Hidup Abu Bakar Ash-Shiddiq
Abu Bakar Ash-Siddiq (nama lengkapnya Abu Bakar Abdullah bin Abi Quhafah bin Ustman bin Amr bin Masud Taim bin Murrah bin ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr At-Taiman Al-Quraisy ). Dilahirkan pada tahun 573 M. Ayahnya bernama Ustman (Abu Kuhafah) bin Amir bin Ka’ab bin Saad bin Laym bin Mun’ah bin Ka’ab bin Lu’ay, yang mana berasal dari suku Quraisy. Sedangkan ibunya bernama Ummu Al-Khair Salamah binti Sahr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Murrah. Garis keturunannya ketemu pada neneknya, yaitu Ka’ab bin Sa’ad. Dimasa jahiliyyah barnama Abdul Ka’ab, lalu ditukar oleh nabi menjadi Abdullah Kuniyyahnya Abu Bakar. Beliau diberi kuniyah Abu Bakar (pemagi) kerena dipagi-pagi betul beliau telah masuk Islam. Gelarnya Ash-Siddiq (yang membenarkan). Beliau di beri gelar ash-siddiq karena amat segera membenarkan rasul dalam berbagai macam peristiwa, terutama peristiwa Isra’ Mi’raj.
Abu Bakar as-Shiddiq dikenal mahir dalam ilmu nasab (ilmu pengetahuan mengenai silsilah keturunan). Ia menguasai dengan baik berbagai nasab kabilah dan suku-suku Arab, selain itu ia juga mengetahui tinggi rendahnya derajat masing-masing suku dalam bangsa Arab, terutama suku Quraisy.
Peran Abu Bakar dalam Islam sangatlah besar. Ia selalu memberi dorongan, semangat dan membela Nabi Muhammad dalam masa perjuangan Islam. Ia tidak segan-segan mengeluarkan uangnya dalam memperjuangkan Islam. Banyak budak yang disiksa oleh majikannya dibebaskan oleh Abu Bakar. Diantaranya adalah Bilal bin Rabah. Abu Bakar juga banyak mengajak para sahabatnya masuk Islam diantaranya adalah Usman bin Affan, Abdurahman bin Auf dan Zubair bin Awwam. Hubungan Nabi Muhammad semakin erat ketika anaknya, Aisyah diperistri oleh Nabi Muhammad.
Abu Bakar As-Shiddiq meninggal pada usia 63 tahun yakni pada hari Senin, 23 Agustus 634 M setelah jatuh sakit selama 15 hari. Sebelum meninggal beliau menunjuk penggantinya yaitu Umar bin Khattab. Abu Bakar dimakamkan disamping makam Nabi Muhammad SAW.

2.2. Pengangkatan Abu Bakar Ash-shidiq Sebagai Khalifah
Sampai akhir hayat, nabi tidak mengunjuk seorang pun sebagai khalifah, sehingga ketika beliau wafat masyarakat muslim kebingungan. Golongan Muhajirin dan Anshor masing-masing berusaha memilih tokohnya sebagai penerus dan pengganti kepemimpinan Nabi.
Para sahabat dari goongan Ansor bermusyawarah untuk memilih pemimpin umat Islam pengganti Rasul dibalai pertemuan Bani Saidah semua mereka bernit untuk mengangkat Saad bin Ubaydah dari golongan Anshor.
Mendengar para sahabat dari golongan anshor serdang bermusyawarah untuk memilih pemimpin pengganti Rasulullah, Abu Bakar dan Umar dating ketempat tersebut. Abu Bakar berpidato untuk menyampaikan pandangannya mengenai persamaan hak dan kewajiban serta derajat, perlunya persatuan dan kesatuan umat Islam dari semua golongan. Mendengar pidato Abu Bakar hadirin tenang dan merasa puas.
Begitu selesai berpidato, berdirilah Umar untuk membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah. Tindakan Umar ini diikuti oleh Saad Ubaydah yang semula akan dipilih oleh kaum Anshor. Dengan demikian resmilah Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Rasulullah meneruskan kepemimpinan dan cara-caranya mengganti sebagai Nabi dan Rasul.
Selesai pembaiatan, maka Abu Bakar berpidato: Wahai umat Islam, sesungguhnya saya telah diangkat sebagai penguasa atas kamu sekalian, padahal saya bukanlah orang yang terbaik diantara kaum sekalian, karena itu, jika saya berlaku buruk maka luruskanlah saya.
Secara umum umat Islam kala itu terbagi pada tiga kelompok besar. Pertama Kaum Muhajirin, yaitu orang-orang Qurais yang tuut serta hijrah ke Madinah bersama Nabi Muhammad. Kedua Kaum Anshor, yaitu penduduk asli Madinah yang telah bersedia menerima Nabi bersama kaum muslimin Mekkah untuk hijrah ke Madinah. Ketiga Keluarga Nabi, yaitu Fatimah bin Muhamad dan orang-orang Ban Hasyim lainnya.
Ketiga kelompok ini pada dasarnya sama-sama mengendaki untuk tampil sebagai pemimpin ummat tetapi setelah terjadi ketegangan akhirnya krisis suksesi kepemimpinan umat ini dapat diselesaikan dengan dipilihnya Abu Bakar sebagai Khalifah.
Sejarah mencatat bahwa sebelum terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah, sempat terjadi perbedaan yang sangat sengit antara Muhajirin dan Ansor, sehingga jedua kelompok ini hampir saja diterpa jurang perpecahan. Melihat suasana yang semakin memanas Abu Ubaydah (dari keluarga Ansor) mengambil inisiatif untuk menetralisir keadaan dengan mengatakan bahwa Ansor adalah orang yng pertama sekali membantu Islam, karena itu ia meminta mereka agar jangan pula menjadi orang yang pertama berbalik untuk berbuat kerusakan dan perselisihan. Upaya tersebut didukung oleh Basyirna bin Sa’ad, salah seorang dari kaum Nasor lain dengan mengatakan bahwa Ansor adalah orang yang memiliki keutamaan dalam melawan kaum musrikin. Ia selanjutnya mengingatkan bahwa tiada yang harus dicari kecuali ridha Allah, patuh pada Nabi dan berusaha untuk kemashlahatan umat, karenanya tidak sepantasnya umat Islam berlarut-larut dalam masalah khalifah. Sambil mengajukan kaum ansor untuk tetap taqwa kepada Allah, ia meminta kepada mereka untuk menyerahkan jabatan itu kepada kaum muhajirin yang memang pantas memilikinya. Atas dasar inilah Abu Bakar As Shiddiq terpilih menjadi khalifah yang pertama.

2.3. Persoalan Kenegaraan Abu Bakar Ash-Shiddiq
a. Penolakan Zakat
Suku atau kabilah yang menolak zakat adalah Abs dan Zubyan. Penolakan mereka, menurut Muhammad Husein Haikal, kemungkinan didasarkan pada dua alasan: kikir atau karena mereka menganggap bahwaa zakat merupakan upeti yang tidak berlaku lagi ketika Nabi saw, wafat. Disamping itu, mereka juga menunjukan sikap politik penmbangkanang, yaitu mereka menyatakan tidak tunduk lagi kepada Abu Bakar. Jadi, penolakan pembayaran zakat merupakan symbol ketidaktunduan secara politik. Abu Bakar dihadapkan pada situasi sulit, dan akhirnya diadakan musyawarah yang dihadiri pada sahabat besar untuk mengatasi para pembangkang. Dalam musyarah tersebut muncul dua pendapat: Pertama, memberikan mereka dan diharapkan dapat membantu umat Islam dalam mengahadapi musuh lain dan berarti mentolelir pembangkangan kedua, memerangi mereka berarti tidak mentolelir pembangkanangn dan sekaligus menambah musuh umat Islam. Umar cenderung untuk tidak memerangi mereka. Kabilah Abs, Zubyan, Banu Kinanah, Gatafan fan Fazarah mengutus utusan kepada Abu Bakar dengan mengatakan bahwa kami akan melakasanakan shalat tapi tidak akan menunaikan zakat. Abu Bakar menjawah bahwa ia akan memerangi apa pun yang tidak menunaikan zakat.
b. Nabi Palsu
Pada zaman kepemimpinan Abu Bakar terdapat sejumlah umat Islam yang melakukan pelanggaran agama dengan mengaku sebagi nabi seperti Musailamah al-Kadzdzab (Musailamah sang pembohong) dan beberapa suku yang murtad. Sejumlah negeri yang penduduknya murtad dijadikan sasaran oleh Abu Bakar dalam rangka mengembalikan mereka kepada Islam.
c. Pengumpulan Mushaf Al-Qur’an
Dalam bidang intelektual Abu Bakar r.a, kebijakan yang paling terkenal adalah pengumpulan Alquran al-Karim setelah perang Yamamah. Gagasan untuk mengumpulkan Alquran al-Karim ini sebenarnya datang pertama kali dari Umar bin Khattab r.a, karena ia melihat banyaknya para penghapal Alquran yang meninggal dalam peperangan terutama pada peperangan Yamamah.
Usaha ini dilakukan atas usulan dari Umar bin Khattab. Pada mulanya Abu Bakar merasa enggan melakukan tugas ini karena hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh nabi Muhammad SAW. Akan tetapi Umar meyakinkannya dengan berbagai alasan diantaranya adalah Ketika itu Al-Qur’an ditulis dalam berbagai benda yang berserakan diberbagai tempat serta banyaknya penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam perang Yamamah. Tugas pengumpulan al-Qur’an ini diketuai oleh Zaid bin Sabit.
Lembaran-lembaran yang berisi tulisan Al-Qur’an yang telah dikumpulkan, disimpan di sisi Abu Bakar hingga beliau wafat, kemudian ia disimpan di sisi Umar juga hingga wafat, dan akhirnya di simpan di rumah Hafsah binti Umar ra. Menurut Abu Abd Allah Al-Janjani, pengumpukan al-Qur’an pada zaman Abu Bakar dilakukan dengan cara mengumpulkan ayat-ayat Al-qur’an yang ditulis di tulang, pelapah (kulit) kayu, dan batu kemudian disalin oleh Zaid Ibn Tsabit di atas kulit hewaan yang telah disamak.

2.4. Ekspansi Kepemimpinan Abu Bakar Ash-shiddiq
Perilaku politik lain yang di jalankan Abu Bakar adalah melakukan ekspansi. Ada dua ekspansi yang dilakukan Abu Bakar, yaitu :
1. Ekspansi ke wilayah Persia di bawah pimpinan Khalid bin Walid . Dalam ekspansi ini (tahun 634 M), pasukan Islam dapat menguasai dan menaklukkan Hirah, sebuah kerajaan Arab yang loyal kepada Kisra di Persia. Daerah ini merupakan penyebaran bangsa Arab dari selatan, namun mereka dijadikan pintu masuk penyebaran islam ke wilayah di belahan timur dan utara.
2. Ekspansi ke Romawi di bawah empat panglima perang, yaitu Ubaidah, Amr bin Ash, Yazid ibn Sufyan dan Syurahbil. Ekspansi ke wilayah Romawi yakni kerajaan Ghassaniyah, yang merupakan daerah protektorat Romawi dan menjadi benteng pertahanan dari serbuan Persia.
Pada masa pemerintahan Abu Bakar r.a, tercatat beberapa pemberontakan yang membahayakan bagi kesatuan negara Islam. Beberapa diantaranya adalah gerakan-gerakan riddah yang muncul tidak lama setelah kematian Rasulullah saw. Pemberontakan-pemberontakan itu bisa dilatari beberapa alasan baik alasan politik, ekonomi ataupun agama. Beberapa pemberontakan dan gerakan yang mengancam stabilitas negara itu dapat kita sebutkan sebagai berikut:
1. Pemberontakan Thulaihah yang mengklaim dirinya sebagai nabi sebelum wafatnya Rasulullah saw.
2. Pemberontakan Sajjah dan Malik bin Nuwairoh di dari Yamamah.
3. Perang Yamamah, dan Musailamah yang menyebut dirinya sebagai nabi.
4. Gerakan riddah di Baharain, Omman, Muhrah, Hadramaut dan Kinda.
Meskipun Abu Bakar r.a tidak banyak melakukan perluasan daerah kekuasaan, akan tetapi beliau berhasil menaklukkan beberapa wilayah:
1. Penaklukkan Iraq, seperti Mahdhor, Ullais, Nahrud Dain, Anbar dan Ain Tamar oleh Khalid bin Walid (12 H).
2. Penaklukkan Syam oleh Khalid bin Walid (13 H), yang sebelumnya telah ditekan oleh Khalid bin Sa’id bin Ash.
Dalam perjalanan Abu Bakar r.a, beliau telah menetapkan beberapa kebijakan dalam politik, beberapa kebijakan penting beliau selain menumpas pemberontakan dan melakukan ekspansi adalah:
1. Menjadikan Hirroh sebagai pusat militer untuk penyerangan selanjutnya ke Syam.
2. Menaklukkan daerah-daerah yang berpeluang untuk membantu melawan Kaisar.
3. Pemindahan baitul mal dari Sunuh ke Madinah.
4. Mengurusi janda-janda perang di Madinah.
5. Penunjukan Umar bin Khattab r.a sebagai penggantinya sebagai Khalifah.
Khalifah Abu Bakar telah melatakan peraturan berperangn yang dijadikan pegangan bagi paraa perwira militer dan pejabat lainnya. Di antara peraturan tersebut adalah (Jaih:2008):
1. Orang tua, wanita dan anak-anak tidak boleh dibunuh
2. Biarawan tidak boleh dianniaya dan tempat ibadah mereka tidak boleh dirusak.
3. Mayat yang gugur tidak boleh dirusak
4. Pohon-pohon tidak boleh ditebang, hasil panen tidak boleh dibakar, dan tempat tinggal tidak boleh dirusak,
5. Perjanjian-perjanjian dengan agama lain harus dihormati, dan
6. Orang-orang yang menyerah harus diberi hak yang sama dengan hak-hak penduduk Islam
Beliau juga merupakan orang pertama yang memisahkan pemerintahan pusat dengan lembaga peradilan, meskipun mungkin dalam tahap sederhana. Kepala pemerintahan sendiri dipegang oleh Abu Bakar r.a, sedangkan Qadhi Madinah adalah Umar bin Khattab yang berada dibawah kepala pemerintahan.

Tentang santrikalangsari

Pesantren kalangsari mendidik menjadi santri berprestasi dan berakhlakul karimah
Pos ini dipublikasikan di Kisah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s