Pesantren Sebuah Lembaga Pendidikan

Pesantren adalah suatu lembaga pendidikan agama Islam yang tumbuh serta diakui oleh masyarakat sekitar, dengan system asrama (kampus) di mana santri-santri menerima pendidikan agama melalui system pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada di bawah kedaulatan dari leadership seorang atau beberapa kiai dengan cirri-ciri khas yang bersifat kharismatik serta independent dalam segala hal. Secara histori, pondok pesantren merupakan jenis lembaga pendidikan Islam yang muncul bersamaan dengan datangnya Islam ke Indonesia yaitu sekitar abad ke-13. Pesantren ini bersifat mandiri, aplikatif, indigenous, yang bisa memberikan kontribusi yang kuat terhadap masyarakat sekitarnya baik dari segi ekonomi, social, kultur, politik serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

      Dalam perkembangannya, pesantren memiliki kepercayaan sebagai lembaga pengembangan sumber daya manusia (human serources) yang bisa membantu pertumbuhan pembangunan nasional. Hal ini terlihatlah bahwa Pesantren merupakan salah satu subsistem pendidikan di Indonesia yang gerak dan usahanya mengarah pada Tujuan Pendidikan Nasional.

      Hal ini sesuai dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 26 ayat 1 dan ayat 4 disebutkan bahwa ”Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap penddikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat”

      Yang menjadi tantangan bagi pesantren saat ini adalah bagaimana pesantren mengupayakan pengembangan sistem dan metodologi pembelajarannya, setidak-tidaknya agar proses pembelajarannya lebih efektif dan efesien. Pengembangan ini dapat berarti pemberdayaan dan pemerkayaan sistem dan metodologi pembelajaran konvensional atau berarti pengubahan sistem dan metodologi yang berimplikasi pada disingkirkannya sistem dan metodologi yang tidak efisien dari sistem konvensional. Pengembangan pembelajaran di Pondok Pesantren ini juga dapat dibedakan dari dua poros, yaitu pengembangan ke dalam (internal), dalam arti pemberdayaan dan pemerkayaan, dan pengembangan keluar (external), yang berarti bahwa pesantren mengakomodasi sistem dan metodologi pembelajaran modern untuk melengkapi atau bahkan mengganti sistem dan metodologi konvensional.

      Sistem dan metodologi pembelajaran konvensional yang dianut pesantren pada umumnya berkisar pada varian-varian seperti sorogan, weton/bandungan, halaqah dan hafalan. Metode-metode ini digunakan di pesantren-pesantren baik yang salafi ataupun kholafi. Metode yang sangat jarang digunakan dalam dunia pendidikan formal di Indonesia. Khususnya metode sorogan, pada masa sekarang keberadaannya sudah tidak dijadikan unggulan dalam memahami kajian kitab kuning

Tentang santrikalangsari

Pesantren kalangsari mendidik menjadi santri berprestasi dan berakhlakul karimah
Pos ini dipublikasikan di Kesantrian dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s