Guru Ngajiku Ustadz Mamat

GURU NGAJIKU USTADZ MAMAT

Oleh : Millah El Kalangsariyi

 

“tahajud, tahajud, agus bangun”. Suara itu membangunkan aku dari lelapnya tidur malam.

“ayo bangun cepet ambil air wudhu” kata-kata yang sudah biasa terucap oleh ustad mamat.

Aku bergegas bangun ambilkan baju kampret biru seragam pesantrenku. Airnya begitu dingin mungkin karena memang pada musim kemarau kalau subuh dinginnya pasti minta ampun. Pesantrenku memang berada dipegunungan disamping pondok mengalir air sungai disamping yang lain terdapat sawah yang terhampar luas nan kekeringan yang sudah berbulan-bulan tidak tersiram air hujan.

 

Satu demi satu santri berdatangan ke mesjid untuk melaksanakan shalat tahajud. Saat aku lihat jam dinding yang ada di mesjid sudah menunjukan pukul 03.30. Cukup untuk melaksanakan delapan rakaat tahajud sebelum adzan subuh berkumandang.

 

Shalat tahajud merupakan shalat yang drajatnya setelah shalat fardu. Hingga di pesantren ini shalat tahajud merupakan kewajiban bagi santri untuk dilaksanakan setiap malam. Kalau tidak kami harus menjalani hukuman dari para pengurus. Kadang aku lelah menjalani kehidupan di pesantren. Aku harus bangun begitu pagi pukul 03.30 kemudian mengikuti berbagai kegiatan pesantren dan sekolah hingga aku tidur kadang aku tidur pukul 23.00 atau paling siang aku terlelap pukul 21.00. Itu kalau pas bubar ngaji langsung tidur. Tapi khan harus menghapal yang lain pelajaran sekolah belum lagi ada tugas sekolah. Semuanya membuatku kadang putus asa dalam menjalani hidup ini.

 

“antum harus sabar ya gus, mesantren banyak tantangannya. Namun tantangan itulah yang menjadikan antum makin dewasa dan mandiri” kata ustad mamat kepadaku saat sarapan pagi di aula makan.

“iya tad, insya Alloh mudah-mudahan ana bisa sabar dan istikomah dalam menjalaninya” aku menjawab dengan nada rendah.

“iya prinsipnya makin dekatlah dengan Allah. Karna Dia-lah yang membuat kebahagiaan itu datang. Seringlah tahajud, duha dan shalat fardu selalu berjamaah dan jangan lupa bantulah sahabat antum” Ustad mamat menasihatiku agar aku menjadi santri yang sesungguhnya.

 

Ustad mamat adalah seorang rois’am di pesantren ini. Beliau sangat pintar ilmu kitab kuningnya. Aku kagum kepada beliau. Disamping ilmunya yang tinggi orangnya santun dan baik hati. Dia selalu membantuku saat mengerjakan tugas-tugas sekolah. Aku sekarang baru kelas XI IPA sedang beliau merupakan lulusan S.1 dari Fakultas Syariah.  Beliau termasuk mahasiswa terbaik angkatannya. Makanya aku sangat beruntung bisa kenal dengan beliau. Banyak ilmunya yang dapat aku serap yang bisa diamalkan dalam hidupan sehari-hari.

 

“gus, berapa juz yang antum hapal dari al-Qur’an??” tanya ustad mamat disela-sela halaqoh mingguan dengan lima santri yang lainnya di kedai makan miliki pesantren.

“akh malu tad” sedikit malu aku ditanya tentang hapalan al-Qur’an. Karena sudah lama aku tidak menghapal lagi al-Qur’an. Karena kemarin-kemarin sebelum aku masuk pesantren. Al-qur’an sangat jarang aku baca apalagi menghapalnya.

“emang berapa juz gus”ustad mamat seolah menghakimiku

“juz 30 aja belum lancar tad” malu sekali aku mengatakannya karena lima temen yang lain sudah ada yang hapal 3 juz malah ada yang sudah mencapai 8 juz.

“owh, tidak apa-apa gus. Antum harus mulai lagi menghapal ya nanti setiap pekan setor ke ana satu halaman Al-qur’an atau satu surat di juz 30 ya, bagaimana” penawaran yang sangat memberatkan bagi aku. Aku punya kelemahan dalam hal menghapal. Tapi demi masa depanku aku akan mencobanya walau terasa begitu berat.

“iya tad, mohon doanya saja dari ustad mudah-mudahan ana bisa”

“Insya Alloh, antum pasti bisa. Memintalah kepada Alloh agar dipermudah dalam menghapalnya”

“iya tad, makasih tad”

Ditutuplah halaqah pekan ini dengan muhasabah dan doa yang dipimpin ustad mamat. Halaqah kali ini memberikan napas arti sebuah penghargaan terhadap diri sendiri. Bahwa diri akan mulia apabila kita memuliakannya dan menghambakan diri di hadapan Allah. Yaitu dengan cara banyak beribadah dan mempelajari kitabNya Al-Qur’an.

 

Hari ini adalah halaqah yang terakhir antara kami dengan ustad mamat. Karena minggu depan ustad mamat sudah diganti dengan ustad hamid. Karena ustad mamat akan pulang kampung dengan alasan katanya menurut santri yang lain mau menikah dengan akhwat pilihannya. Tapi aku belum yakin karna ustad mamat belum menceritakan tujuan yang sesungguhnya kenapa mesti pulang.

“mohon doa dari semuanya semoga ana sehat dan bisa kembali silaturahmi lagi dengan antum semua.” Kata terakhir yang diucapkan ustad mamat.

Dari pertemuan itu ustad mamat sama sekali tidak menyebutkan maksud dari pulang kampungnya. Yang jelas beliau hanya berkata “ana disuruh pulang sama orang tua” hanya kata itu.

 

Dalam sela doaku selalu merindukan sosok ustad mamat. Sosok seperti seorang kakak terhadap adiknya. Sosok pribadi yang terkesan sederhana dalam berkata namun memiliki makna yang begitu menyejukan hati ini. Pribadi yang menurutku sempurna. Dialah yang menemani keresahan hatiku tiap hari. Teman curhat tempat mengadu kegundahan hati ini.

 

Setelahnya aku dititipkan ke kyai Bisri,  pimpinan pesantren kami oleh ayahku. Aku ditempatkan asramanya bersama ustad mamat. Kebetulan ayahku dan kyai Bisri teman masa kecil. Hingga kyai memantaskan ustad Mamat untuk mendampingi aku di pesantren. Kami tidak seasrama namun juga sekobong. Sehingga setiap saat bisa bertemu, ngobrol ini dan itu.

 

Kini kebersamaan itu telah hilang ditelan masalah yang tidak diketahui olehku sendiri. Keresahan ini terlihat oleh kyai Bisri. Mungkin saat aku mengikuti pengajian kitab kuning bersamanya sedikit ada perbedaan dengan sebelumnya dan kyai memperhatikannya itu.

 

“gus, setelahnya ustad Mamat pulang kampung. Ada yang berubah dalam diri antum. Apakah antum merasa kehilangan dia?” Kyai Bisri menanyakan itu di ruang tamu yang baru pertama aku berada d ruang ini yang membuat aku resah dan gelisah dalam batin ini. Karena ruangan ini hanya untuk menerima tamu dan beberapa santri yang bermasalah. Aku takut termasuk santri yang bermasalah.

“iya kyai, ana begitu merasa kehilangannya” aku sedikit gugup dalam menjawabnya dan sedikit ada penekanan ingin ada sebuah kejelasan alasan mengapa ustad mamat pulang begitu saja.

“tau kah antum kenapa dia pulang” tanya Kyai

“tidak kyai” jawabku singkat

 

Keresahan itu semakin menjadi. Aku semakin merasa kehilangan dirinya. Aku semakin merindukannya. Ya Allah, mengapa Kau memberikan penyakit, penyakit yang sanggat mematikan kepada guru sekaligus sahabat terbaikku. Ustad mamat terkena kanker otak. Masya Allah, hati ini begitu terpukul mendengar pernyataan ini dari kyai Bisri. Mengapa dia ya Allah bukan yang lain saja atau aku saja yang begitu banyak dosa. Dia begitu soleh ya Allah begitu mulia perangainya. Aku ingin berteriak memanggil namanya. Begitu membludaknya kerinduan ini kepadanya.

 

Sebuah tulisan yang tak sengaja ku temukan dalam sebuah buku catatan halaqahku. Yang mungkin secara diam-diam ustad mamat menyelipkannya saat aku berangkat sekolah.

Gus, antum harus banyak belajar dari kehidupan. Masih banyak yang harus atum kerjakan dan pelajari. Ana minta maaf tidak bisa selamanya bersama dengan antum. Sekian lama ana menahan rasa sakit ini. Namun ana yakin ini adalah pemberian dari Allah. Sebagai kekuatan dalam menghadapi hidup dalam memaknai hidup sabar dan menerima akan apa yang diberikan Allah. Sudah dua tahun ana terkena kangker. Maaf ana tidak cerita ke antum. Teruslah belajar insya allah ustad hamid lebih dalam ilmunya daripada ana. Selamat berjuang gus. Salam untuk semuanya.

 

Aku berharap ustad Mamat bisa kembali memimpin halaqah seperti biasa…..

Tentang santrikalangsari

Pesantren kalangsari mendidik menjadi santri berprestasi dan berakhlakul karimah
Pos ini dipublikasikan di Karya Santri dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s